< News

Pasar Video Mapping Masih Luas

August / 15 / 2016

Sembilan Matahari: Pasar Video Mapping Msaih Seluas Laut Biru

Senin, 19/09/2011 20:30 WIB

 

Ogah berenang di lautan merah, Adi Panuntun memilih menyelam di laut yang masih biru. Bagi Anda yang masih asing dengan nama Adi Panuntun, dia adalah Creative Head PT. Sembilan Matahari, pihak yang berada dibalik kehebohan video mapping Gedung Sate.

 

Kehebohan video mapping pada acara penutupan ulang tahun ke-66 Jawa Barat, Sabtu malam (17/9) dibuktikan dengan foto kebakaran sesaat Gedung Sate yang menghiasi halaman muka berbagai harian di Jawa Barat pada keesokan harinya.

Berbeda dengan awam yang terpukau dengan sajian tayangan video mapping dengan fasad terbesar di Indonesia, kemarin, Adi merasa video mapping adalah sesuatu yang sudah ‘biasa saja’.

 

“Menurut saya tidak terlalu fantastis. Yang menjadikannya spektakuler karena penayangannya mengakses ruang publik dan landmark populer. Gedung Sate selama ini sering dilihat oleh warga, bahkan menjadi ikon Bandung. Begitu ada sesuatu yang kita tembakkan ke gedung tersebut, dan membuatnya seolah berubah bentuk atau bahkan terbakar, itu menjadi ‘wah’, apalagi nontonnya sambil ngumpul, jadi seru,” ujarnya pada bisnis-jabar.com hari ini.

 

Adi mengaku setiap kali merespon gedung dengan video mapping sambutan yang dia peroleh selalu luar biasa. Sampai saat ini PT. Sembilan Matahari bersama kolaboratornya telah lima kali merespon gedung, yakni Museum Fatahillah Jakarta, Universitas Pelita Harapan Jakarta, Museum Batik Pekalongan, Hotel Grand Kemang Jakarta, dan Gedung Sate Bandung. Di luar lima area tersebut, Adi mengaku telah membuat puluhan video mapping dengan tujuan komersil.

 

“Dilihat dari sisi bisnis kami dengan sengaja memasuki blue ocean di daerah ini. Kami tidak bergontok-gontokan di samudera merah yang berdarah-darah. Kalau kita menjadi perusahaan film, production house atau studio desain tok maka kompetitor kami akan banyak sekali, terutama di Jakarta,” terang pria kelahiran Bandung keturunan Kudus-Solo ini.

 

“Kami berusaha melihat film dan desain itu dari prespektif lain. Kami sentuh lewat pemikiran desain yang cenderung mengutamakan inovasi, lalu menyajikan film dan desain yang tidak sama dengan produk sejenis di pasar,” lanjutnya.

Jebolan Institut Teknologi Bandung jurusan Desain Komunikasi Visual angkatan ‘99 ini menjelaskan Sembilan Matahari sebagai perusahaan desain dan film yang berdiri dengan pendekatan kolaboratif dengan tujuan menghasilkan inovasi produk. Video mapping pun bukanlah satu-satunya produk yang akan terus dia ‘gowes’.

 

“Video mapping ini hanya salah satu dari output eksplorasi kreatif kami yang kebetulan direspon baik oleh pasar. Mulai dari pasar komersil, akademisi, pemerintah, dan sebagainya. Di sisi lain kami tetap menghasilkan output inovasi yang bervariasi, tapi mungkin belum kami rilis secara terbuka ke pasar. Seperti eksplorasi teknologi holografik dan 3D filming,” jelasnya.

 

Lebih jauh, Adi menerangkan ceruk pasar bidang yang dia geluti bisa menjadi luas walaupun eksplorasinya cuma dari dua disiplin ilmu: desain dan film. Merunut cara berpikir desain, ujarnya, ketika desainer bereksperimen mereka akan memancing desirablity, kemampuan untuk membuat sesuatu disukai. Hal ini akan menantang para desainer untuk mencari tahu feasibility-nya, misalnya teknologi yang bisa mengakomodir imajinasi, ide maupun gagasan yang sudah diramu. Terakhir, produk atau gagasan yang sudah dikelola harus bisa sustainable sehingga dapat menghasilkan uang.

 

“Kalau tidak menghasilkan uang kan kita tidak bisa mengembangkan. Itu yang menjadi kebiasaan kami di sini,” terang dosen salah satu perguruan tinggi swasta Jakarta ini.

 

Adi sendiri mengaku imajinasi tentang video mapping sudah lahir dalam benaknya sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Kala itu, dia sering mengkhayalkan ekplorasi medium tidak biasa yang dapat diproyeksikan menjadi bidang proyeksi film.

 

“Itu sudah dari dulu-dulu. Dalam perjalanan waktunya kami mencari tahu apa yang bisa membantu ini untuk terwujud, lalu berevolusi,” ujar peraih gelar Master dari Design Management Northumbria Univeristy, Newcastle, Inggris ini.

 

Meskipun terdapat perbedaan yang signifikan, Adi mengaku video mapping memiliki kapasitas yang sama dengan pembuatan film. Dia memutuskan untuk lebih mengeksplor video mapping karena tidak banyak kompetitor yang bermain di sana, padahal demand-nya ‘lumayan’. Untuk pembuatan video mapping komersil, harga yang dipatok mulai dari Rp75 juta.

 

Adi yang bersama Sembilan Matahari meraih berbagai penghargaan lewat film Cin(T)a (2009) mengibaratkan membuat film seperti menciptakan lukisan yang kemudian dipamerkan. Dari sisi idealisme membuat film layar lebar menurutnya memiliki prestise tersendiri. Lain halnya dengan video mapping atau bentukan eksplorasi desain-film lainnya yang melahirkan kepuasan lebih dari eksperimentasi kreatif.

 

“Kepuasaanya karena kita bisa membagi ke masyarakat lebih luas. Menghadirkan sesuatu yang baru bagi pasar dan masyarakat Ada lho yang bisa seperti ini, ada lho teknologi seperti ini, eksplorasi sejauh ini bisa lho jadi begini,” lanjutnya.

Sembilan Matahari yang dirintis olehnya dan sang adik, Sony Budi Sasono, adalah perusahaan yang terbentuk dari base community. Ia dibangun bukan oleh modal uang, melainkan oleh keinginan berbagi pengetahuan yang besar dari orang-orang di dalamnya.

 

“Yang mengentalkan dan membangun perusahaan ini adalah semangat berbagi. Sekarang kami coba membentuk apa yang kami sebut sebagai Divisi Sembilan Matahari University untuk mengakomodir akar perusahaan, yaitu semangat berbagi. Berbagi itu bukan menghasilkan kompetitor, melainkan melahirkan lebih banyak kolaborator yang membuat ini menjadi lebih besar,” pungkasnya.

 

Saat ini Adi dan Sembilan Matahari sedang menggarap 3D filming dan beberapa permintaan video mapping dari dalam dan luar negeri. (fsi)



Related Post